Jumat, 09 Juni 2017

Media Sosial dalam Teori Komunikasi Massa Klasik dan Kritis


I.                   Teori komunikasi massa klasik
Media sosial merupakan media sosial yang berkembang karena adanya dorongan praktis dari teknologi yang menyebabkan populernya media sosial pada era ini. Berlandaskan pada teori komunikasi massa klasik berjumlah tiga, yakni
1.      Teori Jarum Suntik
Teori jarum suntik merupakan teori mengenai komunikasi yang berbicara banyak mengenai pengaruh media massa bagi individu (Umar, 2000:21). Disebut juga sebagai teori peluru, teori ini berbicara bagaimana informasi dari media massa dapat melesat seperti peluru yang dapat “menyerang” siapa saja yang menerima informasi tersebut. Teori ini juga membahas bagaimana media massa adalah sebuah jarum suntik yang menyuntikkan informasi bagi audience yang lemah dan tidak berdaya (Umar, 2000:21).
Media massa memiliki kekuatan yang besar dalam menginjeksikan ide dan juga informasi bagi khalayak (Umar, 2000:22). Schramm dalam Umar (2000:22) menyebutkan media massa juga dianggap sebagai sebuah atom yang terpisah, tidak berhubungan satu sama lain dan hanya berhubungan dengan media massa. Apabila khalayak memiliki pendapat yang sama terhadap sebuah persoalan hal itu bukan terjadi karena mereka mereka berkomunikasi atau saling mengenal akan tetapi itu karena mereka memperoleh informasi dari media yang sama.

Media sosial sebagai bagian dari media massa era baru ini menjadi sangat menarik untuk ditelusuk lebih dalam. Pasalnya segala informasi dapat diperoleh hanya dengan menggunakan media sosial. Bukan hanya melalui chat-to-chat, akan tetapi sudah mulai ada beberapa akun asli dari media-media massa yang menyalurkan informasi melalui media sosial. Terlihat bagaimana teori jarum suntik, cocok dengan fenomena kemarakan media sosial yang ada. Dilihat dari bagaimana media sosial “menginjeksi” penggunanya dari hal pemberitaan. Meminjam pernyataan dari Schramm dalam Umar (2000:22) yang menjelaskan bahwa apa bila audience memiliki kesamaan pendapat, maka mereka memperoleh informasi dari media yang sama. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa akun informasi seperti infia fact yang memposting suatu informasi, kemudian dihujani dengan ribuan komentar yang bersifat pro dan kontra.









Gambar tersebut adalah bukti bahwa adanya sebuah postingan disebuah media sosial sebagai media massa, dan terjadi pro-kontra didalamnya merupakan salahsatu bentuk adanya teori jarum suntik yang terjadi. Media sosial juga mempengaruhi secara sangat signifikan terhadap pola kehidupan audience. Ada sebuah “ideal” yang dibangun dan sangat memperngaruhi standar baru dari kehidupan manusia. 
Contohnya adalah booming-nya make up sebagai sebuah standar kecantikan dari seorang wanita. Hal ini menjadi pengaruh yang besar bagi publik bagaimana adanya pengaruh dari beauty vlogger sebutan bagi para “standar kecantikan” dari media sosial yang akhirnya berdampak bagi masyarakat khususnya bagi kaum wanita. Berawal dari kegiatan cara menghias diri yang baik maka mulai muncul trend “wajib make-up” yang meluas bagi setiap wanita, karena adanya pengaruh dan “injeksi” dari aktifitas vlogger yang dilakukan di sosial media beauty  vlogger. Kekuatan media sosial sebagai media massa mempengaruhi bagaimana standar kecantikan wanita diukur dari bagaimana dirinya menggunakan make-up. Hal ini adalah wujud dari pembuktikan konsep teori jarum suntik mengenai kekuatan besar media massa yang mempengaruhi khalayaknya.










1.      Teori Uses and Gratification
Teori Uses and Gratification merupakan salah satu teori yang secara garis besar membahas mengenai pemahaman media dan juga dampak media bagi masyarakat (West&Turner, 2013:101-113). Media dalam teori Uses and Gratification memunculkan adanya kebutuhan yang dipuaskan oleh media (West&Turner, 2013:105):
a.       Kognitif : memperoleh informasi, pengetahuan dan pemahaman.
b.      Afektif   : pengelaman emosional, menyenangkan atau estetis.
c.       Integritas personal: meningkatkan kredebilitas, percaya diri, dan status.
d.      Integrasi sosial: meningkatkan hubungan dengan keluarga, teman, dan lainnya.
e.       Perlepasan ketegangan: pelarian dan pengalihan.  
Beberapa hal tersebut sejatinya merupakan sebuah hal yang terbentuk sebagai sebuah dampak yang terjadi karena media mengambil alih perhatian khalayak. Melihat bagaimana media sosial mendominasi sebagian aktifitas dari individu maka hal ini erat kaitannya dengan kepuasaan dalam teori Uses and Gratification. Media sosial secara garis besar telah mencakup lima hal kepuasaan yang diberikan oleh media. Salah satu contohnya adalah integritas sosial, banyak sekali dijumpai adanya grub yang memuat orang-orang dengan kesamaan tertentu (fans artis, pendukung partai politik atau tokoh politik tertentu, program beasiswa, dan lain-lain). Aktifitas media sosial pemuas kebutuhan integritas sosial merupakan sebuah bukti nyata adanya keterkaitan dengan teori Uses and Gratification. Media sosial saat ini diakui sebagai sebuah alat yang telah mulai sulit untuk dipisahkan dengan khalayak, pasalnya secara sosial khalayak secara tidak langsung telah terhubung satu dengan yang lainnya sehingga hal ini menjadikan sebuah koneksi yang kuat dengan media sosial.
            Adanya sebuah aktifitas yang dapat digantikan dengan media sosial membuat adanya sebuah kepuasaan yang dirasakan oleh khalayak dari kelima hal tersebut. Pengetahuan yang digantikan dengan akun-akun yang memuat informasi-informasi berdasarkan pemberitaan tertentu. Aktifitas untuk mengobrol dan face to face digantikan dengan aktifitas chatting yang hampir diseluruh media sosial terdapat fitur chatting. Aktualisasi diri kini dapat dilakukan dengan media sosial yang menyediakan gambar dan foto atau video yang dapat menghilang dalam durasi 1x24 jam. Media sosial memberikan kepuasaan yang “modern” dan praktis kepada penggunanya, hal ini dikarenakan media sosial dapat mencakup segala hal yang dapat dilakukan oleh media massa lain.
2.      Teori Agenda Setting
Teori agenda setting merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh MCcomb dan Donal Shaw (LSPR, 2010:327). Teori ini membahas mengenai fungsi media massa dalam untuk menyeleksi dan memberi tekanan pada isu-isu dengan menunjukkan fakta-fakta yang telah terakumulasi, dengan demikian media menghantar audiens untuk merasakan isu-isu tersebut sebagai isu yang berguna. Teori ini membawa sebuah fakta yang menyatakan bahwa ada sebuah kekuatan dari media massa untuk mempengaruhi khalayak terhadap sebuah isu tersebut. Antoni (2004:79-80) menyebutkan ada tiga dimensi dalam teori agenda setting, yakni:
a.       Agenda media       : menjelaskan bagaimana media mengeksploitasi atau mengarahkan berita dan informasi secara terus menerus kepada publik. Berita dianggap sebagai sebuah hal yang penting dan harus mendapat perhatian dari khalayak. Agenda media juga meliputi framing yang merupakan proses seleksi dari berita atau realitas yang ada agar terlihat dari aspek lain. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian publik dan khalayak dan memunculkan adanya agenda publik.
b.      Agenda khalayak atau publik       : menjelaskan bagaimana informasi dan berita berorientasi pada awareness publik, hal ini menyatakan bagaimana sebuah media mengemas informasi atau berita agar dapat “mencuri” perhatian publik.
c.       Agenda kebijakan : menjelaskan bagaimana pemberitaan yang muncul mempengaruhi kebijakan yang ada. Hal ini biasa dicontohkan dengan berita pemerkosaan yang akhir-akhir ini sering terjadi, pemberitaan tersebut menimbulkan demo yang dapat mempengaruhi kebijakan mengenai hukuman bagi pemerkosa.
Media sosial dalam teori agenda setting ini memiliki keterkaitan dalam hal agenda khalayak atau publik. Meskipun saat ini media sosial adalah media massa baru akan tetapi kedudukannya telah menimbulkan beberapa aksi yang jika dikaitkan sangat erat dengan teori dalam agenda setting. Media sosial memanfaatkan koneksi yang terjadi antara pengguna satu dengan yang lainnya untuk saling mengintpretasi informasi yang saling ditukarkan. Media massa lama lebih bersifat satu arah, artinya informasi disampaikan tanpa adanya pengembangan dan respon bersifat pasif sehingga agenda yang terjadi tidak dapat dilihat secara realistis. Media sosial membawa kelemahan media massa lama sebagai kekuatannya, dimana sebuah respon dapat dilihat secara aktif. Contohnya adalah gerakan #seribulilinAhok, gerakan ini adalah sebuah wujud simpati dan empati warga Indonesia setelah aksi penjeblosan Ahok dalam penjara. Melalui media sosial seluruh pengguna menenkripsikan pesan yang diterima dan menindaklanjuti dengan menggunakan respon aktif baik seperti komenta atau tindakan membagikan kiriman.



Gambar diatas adalah sebuah bentuk kekuatan media sosial yang dapat menggerakkan lebih dari 1000 pengguna media sosial untuk melakukan gerakan seribu lilin di beberapa tempat berbeda. Hal ini berkaitan dengan Agenda publik, yang mana media sosial membawa sebuah pengaruh bagi publik atau audiensnya, dalam hal ini bukan saja awareness yang dipengaruhi oleh media sosial akan tetapi telah pada tahap action.



I.                   Teori Kritis
Media sosial merupakan sebuah media massa baru yang berkembang atas dasar perkembangan teknologi yang membawa media massa ketempat yang lebih maju. Kehadiran media sosial tentunya menjadi sebha fenomena besar yang menggantikan kedudukan dari media massa yang ada. Media sosial memberikan sebuah kemudahan yang dapat dinikmati oleh seluruh penggunanya mulai dari aktifitas keuangan atau banking, aktifitas perbelanjaan dan aktifitas-aktifitas lain yang memiliki kemungkinan dapat dilakukan dengan aktifitas online. Beberapa pertanyaan muncul karena keadaan media sosial yang mulai menggantikan keseluruhan peran dari media massa.
            Benarkah media sosial benar-benar mempengaruhi keseluruhan dari aktifitas khalayak? Adakah? Faktanya tidak semua hal dimulai karena adanya isu yang disebarluaskan. Media sosial pada hal ini disebut sebagai sebuah medium untuk menyebarkan sebuah isu atau fakta yang ada. Media sosial menjadi sangat kaya akan sebuah berita adalah karena kemudahan dan tidak adanya biaya yang sangat besar untuk mengakses dan menyebarkan sebuah berita. Apakah media sosial yang merupakan bagian dari komunikasi massa masih menjadi mengadopsi teori komunikasi massa klasik yang kebanyakan menyebutkan adanya kondisi satu arah informasi?. Media sosial bertindak sebagai sebuah medium untuk menyebarkan berita dan mengakses berita, hal ini melunturkan adanya sebuah pernyataan bahwa media hanya memberikan sebuah santapan informasi. Faktanya media sosial bersifat sebagai sebuah sarana baru bagi khalayak untuk berlaku seperti penyebar berita. Melalui hal ini maka kuasa kontrol media massa sudah tidak lagi berlaku, karena media sosial memberikan sebuah kesempatan kepada khalayak untuk menjadi pengontrol pemberitaan dan juga pengontrol penyebaran informasi.

Daftar Pustaka
Antoni. (2004). Riuhnya Persimpangan itu: Profil dan Pemikiran Para Penggagas kajian Ilmu Komunikasi. Surakarta : Tiga Serangkai.
London School Public Relations. (2010). Beyond Borders: Communication Modernity & History. Jakarta : LSPR.
West. R&Turner. L.H. (2013). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika.
Umar, M.H. (2000). Selendang Merah: Pilihan Cerpen. Jakarta:Grasindo.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar